“Anak orang kaya jangan daftar LPDP”

Oleh: Prof. Pitoyo Peter Hartono
(Profesor departemen teknik elektro dan elektronika di Chukyo University, Jepang)

“Anak orang kaya jangan daftar LPDP”

Hari-hari ini saya banyak mendengar komentar seperti itu. Saya sama sekali nggak punya kepentingan pada LPDP dan semua orang bebas berkomentar. Cuma saya juga merasa bebas untuk berpikir bahwa komentar di atas itu tolol.

Ini nggak beda jauh dengan mengatakan anak presiden atau mantan presiden jangan jadi wapres, menteri atau pejabat.

Kalau sistem memperbolehkan, terus mau apa? Kalau sistem itu melanggar meritokrasi atau bisa dipermainkan, ya sistem dan negara yang membuat sistem itu yang bobrok. Kritik atau ubahlah sistem, bukan orang yang mengikuti aturan main sistem itu.

Saya jelaskan pendapat saya.

1. Tidak semua beasiswa itu need-based (diberikan untuk orang yang membutuhkan, misalnya karena lemah ekonomi). Ada beasiswa yang merit-based (diberikan pada orang yang capable, dalam hal ini capable secara akademis). Kalau ternyata LPDP ini beasiswa yang merit-based, nggak ada halangan bagi siapapun yang mendaftar selagi dia punya kemampuan akademis. Kaya miskin nggak relevan. Jadi sebelum buka congor, tanya dulu, apakah beasiswa ini need atau merit-based?

2. Universitas luar negeri yang dituju, nggak peduli seseorang itu miskin atau kaya. Yang mereka peduli orang itu punya pontensi akademis untuk mengikuti program pendidikan di universitas itu. Sekali lagi, kaya miskin itu nggak relevan.

3. Memang ada disparitas kemampuan akademis dari golongan mampu dan tidak. Ini karena anak keluarga mampu mempunyai akses yang lebih baik pada pendidikan bermutu. Tapi ini bukan salah mereka. Ini adalah bentuk ketidakmampuan pemerintah untuk meratakan akses pendidikan bagi siapapun. Salahkan pemerintah bukan orang yang me-levarage kemampuannya untuk mencapai jalan hidup yang lebih baik.

4. Jangan gampang melabeli “anak orang kaya”. Tidak sedikit anak orang kaya yang berusaha untuk mandiri. Menembus beasiswa adalah salah satu usahanya. Anda merasa berhak untuk mengambil hak anak-anak itu untuk berusaha menjadi orang yang mandiri?

BTW,
Saya sama sekali nggak kenal dengan LPDP sampai dua tahun yang lalu. Pada saat itu anak salah satu sahabat kecil saya meminta saya untuk menulis recommendation letter untuknya yang ditujukan pada salah satu universitas top di Inggris, tujuannya setelah dia lolos LPDP. Saya tidak secara otomatis menyanggupi. Karena bidangnya terkait dengan bidang penelitian saya, saya mengharuskan dia untuk melakukan seminar berkala dengan saya sekali sebulan tentang rencana penelitiannya. Setelah saya yakin dia mampu, saya menulis rekomendasi untuknya pada seorang professor di universitas tujuannya. Kami juga melakukan simulasi interview universitas tersebut. Dalam karier saya, ini surat rekomendasi terteliti yang pernah saya tulis. Ada dua alasan: karena saya yakin anak ini benar-benar mampu, dan saya yakin bidang yang diambilnya relevan untuk Indonesia yang membiayainya. Dia diterima dan sudah menyelesaikan S2 nya dengan sangat baik. Dua hal yang tidak pernah saya tanyakan padanya: Bokap loe punya duit berapa, dan kenapa loe nggak minta rekomendasi ke dosen loe di UI.

(Sumber: fb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *