Tiga Anak, Tiga Tragedi: Kutipan dari WatchdoC Documentary tentang Kematian yang Dipertanyakan
Narasi berikut merupakan kutipan dan rangkuman dari unggahan akun Watch Documentary yang mendokumentasikan sejumlah kasus kematian anak dilakukan aparat penegak hukum.
Informasi ini disusun berdasarkan keterangan keluarga, temuan lembaga bantuan hukum, serta perkembangan penyelidikan yang telah dipublikasikan. Penulisan ulang ini bertujuan untuk merapikan alur cerita dan menghadirkan kembali data yang telah beredar ke ruang publik secara profesional.
Tiga anak. Tiga peristiwa berbeda. Namun terdapat pola yang serupa: kematian terjadi, versi resmi disampaikan, lalu muncul temuan yang mempertanyakan narasi awal tersebut.
– Arianto Tawakkal, 14 tahun, pelajar di Kota Tual, Maluku, meninggal dunia pada 19 Februari 2026. Ia diduga dipukul anggota Brimob menggunakan helm baja saat mengendarai sepeda motor, hingga terjatuh dan kepalanya membentur aspal. Arianto sempat dirawat dalam kondisi kritis sebelum akhirnya meninggal enam jam kemudian. Pada awal kejadian, peristiwa ini disebut sebagai balap liar. Namun setelah keluarga menemukan bukti dan saksi, penyelidikan berkembang dan Bripda Masias Siahaya kemudian ditetapkan sebagai tersangka.
– Gamma Rizkynata Oktafandy, 16 tahun, pelajar di Semarang, tewas akibat ditembak polisi pada November 2024. Versi awal kepolisian menyebut Gamma terlibat tawuran. Akan tetapi, rekaman CCTV yang kemudian muncul membantah klaim tersebut. Komnas HAM menyimpulkan bahwa penembakan terhadap Gamma merupakan pembunuhan di luar proses hukum.
– Afif Maulana, 13 tahun, pelajar di Padang, ditemukan meninggal mengambang di Sungai Kuranji pada Juni 2024 dengan sejumlah luka lebam di tubuhnya. Polisi menyatakan tidak mengetahui keberadaan Afif saat patroli malam. Namun keluarga bersama LBH Padang mengungkap kesaksian tujuh saksi yang menyebut Afif diduga ditangkap, dipukuli, dan disiksa oleh aparat Sabhara. Penelusuran keluarga juga menemukan adanya patah tulang rusuk serta robek paru-paru. Hingga kini, kasus kematian Afif disebut masih belum menemukan kejelasan dan belum ada penetapan tersangka.
Dalam ketiga kasus ini, keterangan awal aparat tidak sepenuhnya sejalan dengan temuan keluarga, saksi, maupun bukti di lapangan. Kejelasan perkara disebut baru menguat setelah adanya tekanan publik, pendampingan hukum, serta munculnya bukti tambahan.
Tiga anak.
Tiga tragedi.
Tiga koreksi atas versi resmi.
Pertanyaannya kini: apa yang perlu dibenahi agar kekerasan dan perbedaan narasi semacam ini tidak terus berulang?
WatchdoC Documentary







Bubarkan wercok, ganti sama damkar, kirim si Sigit ke kampung mjd petani … Insya Allah damai negeri ini
Kalo korban tak bersalah, nyawa bayar nyawa