Amerika dan Israel telah kalah pada putaran pertama perang Iran

Evaluasi Perang terhadap Iran secara Politik dan Strategis dalam Sepuluh Poin Dasar

Dr. Khalil Al-Anani

Setelah berlalu tiga hari sejak perang terhadap Iran, dapat ditarik poin-poin berikut:

1. Kekacauan politik dan strategis Amerika

    Pemerintahan Trump mengalami kebingungan yang jelas; akibat masuk ke dalam perang tanpa visi yang jelas atau strategi yang terdefinisi untuk pasca-serangan pertama. Perkara ini tampak seolah menganut prinsip “eksekusi dulu, berpikir kemudian.”

    2. Jebakan “model Venezuela”

      Pemerintahan Trump terjerumus dalam ilusi mengulang (skenario Maduro) dalam kasus Iran; dengan bertaruh pada operasi kilat pasukan elit yang menargetkan puncak kepemimpinan, dengan asumsi bahwa hal itu akan langsung menyebabkan runtuhnya rezim serta terjadinya pembalikan rakyat dan naiknya pihak yang loyal ke tampuk kekuasaan. Kenyataannya membuktikan kegagalan telak asumsi tersebut.

      3. Kekalahan “narasi” dan kontradiksi tujuan

        Pemerintahan Amerika gagal memasarkan perang kepada publiknya karena perubahan agenda yang terus-menerus; kadang tujuannya “perubahan rezim”, kadang “program nuklir”, di lain waktu “senjata rudal” atau “lengan-lengan regional.” Kontradiksi mencolok dalam pernyataan para pejabat ini menegaskan bahwa tidak mungkin memenangkan perang tanpa narasi yang koheren, sekalipun narasi itu menyesatkan.

        4. Terbukanya “agenda Israel”

          Di tengah runtuhnya narasi resmi, menguat keyakinan di kalangan opini publik Amerika bahwa perang ini adalah perang demi melayani kepentingan Israel semata. Hal ini akan meningkatkan penolakan publik Amerika, terutama setelah episode “Tucker Carlson” yang memperlihatkan ketidakmampuan Trump di hadapan basis konservatifnya, yang akan memiliki dampak politik mendalam pada periode mendatang.

          5. Menargetkan stabilitas Teluk

            Muncul narasi baru dan berbahaya yang menunjukkan bahwa salah satu tujuan Israel dari perang ini adalah melemahkan dan menghancurkan Teluk Arab melalui penyulutan fitnah dan konflik langsung dengan Iran, yang seharusnya mendorong peninjauan strategis penting dalam waktu dekat.

            6. Kohesi negara Iran

              Berlawanan dengan tujuan perang, Iran membuktikan bahwa ia adalah negara nyata, bukan negara karton buatan, melainkan kokoh secara institusional dan politik, bukan hanya militer. Tampak jelas bahwa Teheran telah mempersiapkan diri dengan baik untuk perang ini, bahkan tidak berlebihan jika dikatakan bahwa ia menunggunya. Hal ini memungkinkannya memegang kendali inisiatif dan mengatur ritme pertempuran, sementara Washington dan Tel Aviv terperangkap dalam jebakan kesombongan yang membutakan mereka dari membaca fakta-fakta ini.

              7. Rapuhnya payung keamanan Teluk

                Terlihat dengan jelas bahwa negara-negara Teluk Arab, meskipun memiliki kemampuan finansial, tetap berada dalam posisi strategis yang terbuka dan rentan; akibat ketergantungan berlebihan pada perlindungan Amerika yang telah berubah menjadi kesalahan historis. Juga tampak bahwa pangkalan militer Amerika telah menjadi beban keamanan bagi negara tuan rumah alih-alih menjadi aset bagi mereka.

                8. Risiko perpanjangan dan internasionalisasi

                  Kecenderungan saat ini mengarah pada perpanjangan perang kecuali terjadi perkembangan dramatis (seperti penggunaan senjata nuklir). Semakin lama konflik berlangsung, semakin besar kerugian Amerika dan sekutunya secara militer, ekonomi, dan psikologis, yang dapat menggoda Rusia dan Tiongkok untuk terlibat langsung, mengubahnya menjadi perang dunia yang nyata.

                  9. Buntu dalam opsi pengakhiran

                    Opsi apa pun untuk mengakhiri perang tidak akan menguntungkan Washington dan sekutunya; opsi darat—jika terjadi—akan menjadi perang pengurasan dan kuburan yang anggarannya tidak mampu ditanggung oleh Amerika, Israel, maupun Teluk. Opsi nuklir akan menjadi bencana eksistensial bagi semua pihak.

                    10. Jalan keluar yang paling sedikit pahit

                      Pilihan dengan kerugian paling kecil adalah keberhasilan Kongres mengekang Trump dan menghentikan operasi militer, kemudian menuju perundingan yang pada akhirnya akan menghasilkan kesepakatan yang lebih menguntungkan Iran daripada pihak mana pun.

                      Kesimpulan:

                      Amerika dan sekutunya telah kalah pada putaran pertama perang, dan yang lebih penting, mereka kalah dalam pertempuran narasi dan perang psikologis.

                      “Siapa yang membangunkan jin, dialah yang harus menanganinya.”

                      Tinggalkan Balasan

                      Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

                      2 komentar

                      1. Kalo sy melihatnya ini sebagai perangnya trump dan setanyaho. Trump butuh pengalih perhatian dr kemungkinan impeachment krn terlibat kasus Epstein, sementara setanyaho butuh dukungan rakyatnya agar tdk digulingkan krn terlibat kejahatan perang … kebetulan 2-2nya jg pemimpin yg punya sifat yg sama “barbar” … krn kepentingan 2 orang inilah rakyat Israel & Amerika yg jd korban … dan yg super tolol adalah para pemimpin negara2 teluk yg dimanfaatkan 2 setan itu demi ambisinya