Pada tanggal 1 Maret 2026, sebuah pusat data Amazon Web Services (AWS) di Uni Emirat Arab (UEA) mengalami pemadaman listrik dan kebakaran setelah terkena “benda-benda” asing di tengah konflik regional yang sedang berlangsung.
Berikut adalah poin-poin utama terkait peristiwa tersebut:
Detail Insiden
- Waktu & Lokasi: Insiden terjadi sekitar pukul 04:30 PST (atau 07:30 ET) pada hari Minggu di salah satu Availability Zone (mec1-az2) di wilayah ME-CENTRAL-1.
- Penyebab: AWS melaporkan bahwa pusat data tersebut terkena “benda-benda” yang memicu percikan api dan kebakaran. Meskipun Amazon tidak secara eksplisit mengaitkannya dengan serangan militer, insiden ini terjadi bersamaan dengan serangan rudal dan drone balasan dari Iran terhadap target di UEA dan negara-negara Teluk lainnya.
- Dampak Operasional: Departemen pemadam kebakaran memutus aliran listrik ke fasilitas dan generator untuk memadamkan api. Hal ini menyebabkan gangguan konektivitas yang signifikan bagi pelanggan yang menggunakan zona tersebut.
Tuduhan Terkait Intelijen Israel
Meskipun laporan berita arus utama berfokus pada kerusakan fisik akibat konflik, beberapa sumber dan laporan investigasi menyoroti keterlibatan Amazon dengan militer Israel:
- Kontrak Nimbus: Amazon dan Google memiliki kontrak senilai $1,2 miliar yang dikenal sebagai Proyek Nimbus untuk menyediakan layanan cloud dan AI bagi pemerintah serta militer Israel.
- Penyimpanan Data Intelijen: Laporan investigasi mengklaim bahwa infrastruktur AWS digunakan oleh tentara Israel (IDF) untuk menyimpan informasi intelijen hasil pengawasan massal, yang membantu operasi militer mereka.
- Klaim Serangan: Beberapa laporan tidak resmi dan unggahan di media sosial menyatakan bahwa pusat data di UEA tersebut secara khusus menjadi sasaran karena dianggap melayani kepentingan intelijen Israel di wilayah tersebut. Namun, pihak AWS menolak untuk mengonfirmasi atau membantah apakah insiden tersebut terkait langsung dengan serangan militer yang ditargetkan.






