✍🏻Ayu Shintia
Lagi rame banget nih di obrolan warga Purwakarta… Siapa sih yang nggak tahu Almaz Fried Chicken? Padahal kalau lewat sana, antreannya sering mengular, tapi kok tiba-tiba dapet kabar kalau cabangnya resmi TUTUP? 😱
Sebagai orang yang suka ngintip “dapur” bisnis, kejadian ini menarik banget buat kita bedah bareng-bareng. Kok bisa sih bisnis yang kelihatannya laris manis malah gulung tikar?
Almaz Fried Chicken Tutup. Padahal Dulu Selalu Ramai. Kenapa Bisa? 🤔
Jujur, ini bikin banyak orang kaget.
Outlet ramai, brand kuat, konsep beda. Tapi ujungnya… tutup juga.
1. Ramai ≠ Sehat
Ramai pembeli belum tentu margin aman.
Kalau biaya sewa, operasional, dan bahan baku naik terus sementara harga jual “nggak enak dinaikin”, pelan-pelan napas bisnis bisa habis.
2. Ekspansi Terlalu Agresif
Buka cabang cepat itu keren, tapi kalau sistem belum siap, yang bocor biasanya:
Kontrol kualitas
Manajemen SDM
Arus kas
Bisnis kelihatan besar, tapi fondasinya retak.
3. Ketergantungan Tren
Ayam Saudi sempat hype.
Masalahnya, tren itu ada umurnya.
Kalau tidak diikuti inovasi menu, pengalaman, atau positioning baru, pelanggan pindah pelan-pelan… tanpa pamit.
4. Operasional Lebih Kejam dari Marketing
Marketing bisa bikin orang datang.
Operasional yang buruk bikin bisnis tumbang diam-diam.
Yang menarik:
Banyak UMKM kecil justru bisa bertahan karena lebih disiplin cashflow, bukan karena branding besar.
Menurut kamu, faktor mana yang paling masuk akal?
Bisnis itu bukan soal lomba lari cepat melainkan seperti lari marathon, yang kuat lah yang bertahan.
(Sumber: fb)







Komentar