Aku hampir jadi korban kaum pel*ngi di Saudi

*Disclaimer: di negara mana pun ada orang baik dan jahat. Namun bisa jadi angka kaum pel*ngi di Saudi cukup tinggi karena mahalnya MAHAR (untuk nikah). Saya menceritakan ini agar dapat diambil pelajaran dan tidak bermaksud merendahkan bangsa manapun.

Sekitar tahun 2012, badan saya masih kurus. BB hanya 50-52 kg dgn tinggi 160 cm. Jenggot juga baru sedikit, sekitar 7-9 helai. Rupanya profil seperti saya ini menjadi incaran empuk kaum g*y. Mereka beranggapan, mangsa dengan badan kecil dan kurus tidak akan berani melawan dan akan menuruti nafsu setan mereka.

Semua ini berawal saat saya sedang berada di pasar loak di jalan 60 (syari’ sittin) Makkah. Saat sedang memilah dan memilih jubah bekas, saya mendengar bunyi klakson mobil. Ketika saya menoleh, ada mobil sedan sedang terparkir di belakang saya dan setelah kaca jendela mobil diturunkan, pria di belakang kemudi mengisyaratkan tangannya agar saya mendekat.

Dari penampilannya, pria ini layaknya orang shalih, multazim, atau dikenal dengan muthawwa’. Multahi (berjenggot lebat), kumis dirapihkan, memakai ghutrah, dan berjubah putih.

Ketika saya mendekat, dia mengatakan, “Enta ta’rif masaj?” (Kamu bisa mijat), sambil pasang mimika wajah kayak lagi pusing.

Sayapun memastikan, “attadlik yakni?” (Maksudnya pijat)

Dia, “aiwah, ana ta’ban syuwai” (ya, aku lagi ga enak badan)

Ketika saya pegang keningnya, suhu tubuh normal. Tapi dia bilang sakit kepala. Saya pun reflek mijit kepala dia dari luar mobil. Ga lama kemudian dia bilang, “gimana kalau dilanjutin di rumah kamu atau di rumah aku, nanti aku kasih kamu fulus.”

Saya bilang, “Di apartemen saya sempit, dan di kamar yang sempit itu ada lima ranjang. Kalau rumah kamu dekat, di rumah kamu lebih baik.”

Dia, “Rumahku dekat, arah Tan’im. Yallah bismillah.”

Dia membukakan pintu mobil agar saya masuk ke dalam mobil.

Di perjalanan, dia menanyakan nama saya. Tapi ketika saya tanyakan nama dia, dia hanya menjawab dengan nama kunyah, Abu Muhammad. Kita pun mulai ngobrol ngalor ngidul mengenai budaya Indonesia dan Arab Saudi. Semuanya masih terlihat normal.

Dan… hal yang aneh pun bermula. Tetiba dia mau pinjam HP saya. Saya tanya kan…buat apa? Dia bilang, “ibgha ‘ayanah” (aku pengen lihat-lihat aja). Saya bilang, ga mau, karena kalau saya buka, nanti ada foto istri saya. Saya pikir sebagai orang shalih, alasan saya dapat dia terima karena orang shalih pasti akan menghormati alasan saya tersebut. Namun yang mengejutkan adalah… Dia mengatakan, “Ana ‘arif fi jawwalik aflam dukduk. A’rif Indunisiyyin wakullahum bijam’il aflam dukduk.” (Aku tahu di hpmu ada film zina. Aku kenal orang² Indonesia dan mereka semua koleksi film zina)

Aku bilang, “La, fi jawwali mafisy aflam ibahiyyah” (Ga, di hpku ga ada film po*n#)

Dia ga percaya dan bilang saya bohong. Dan terus menerus maksa lihat hp saya.

Dari sini saya mulai waspada dan keluar keringat dingin. Di dalam hati saya mengulang-ulang doa,

أعوذ بكلماتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِن شَرِّ ما خَلَق

“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan semua makhluk yang Dia ciptakan.”

Saya juga terus berdoa di dalam hati, Ya Rabb, jika orang itu memiliki niat jahat, selamatkanlah hambamu ini ya Allah.

Saya pun baca dzikir Allahumma inni as’alukal ‘afwa wal ‘afiyata fiddunya wal akhirah dst. Agar Allah Ta’ala berikan penjagaan.

Mobil terus melaju. Masjid ‘Aisyah di Tan’im sudah lewat namun mobil masih terus dipacu ke arah kota Madinah. Sayapun menanyakan apakah rumah kamu masih jauh? Dia bilang dekat, sebentar lagi sampai.

Kemudian mobil belok kanan dan memasuki perkampungan yang sangat sepi. Mobil berbelok ke dalam gang-gang lalu berhenti di depan rumah kecil.

Ketika saya masuk ke dalam rumah, dia langsung mengunci pintu bercat merah yang terbuat dari besi itu.

Glekk….

Dada bergemuruh… tapi hanya mampu berkata dalam hati, “Allahumma sallim sallim” (Ya Allah selamatkanlah aku)

Namun saya berusaha tetap tenang. Dia masuk ke dalam kamar lalu keluar dari kamar sambil menenteng kasur lantai dan udah pakai kolor doang… Ya Allah….

Dia letakkan kasur itu di karpet ruang tamu dan langsung tengkurap. Saya pun kembali berbaik sangka, mungkin saja dia cuman mau dipijat. Sayapun menanyakan, “Ma’ak zait?” (Punya minyak ga)

Dia bilang, “Zaitaz Zaitun ya’ni” (minyak zaitun)

Ya, minyak zaitun bagus.

Dia berdiri lalu berjalan ke arah dapur dan mengambil minyak zaitun. Menyerahkannya kepada saya, lalu kembali tengkurap.

Bismillah… Sayapun mulai memijit punggungnya lalu berpindah ke betis. Dia minta dipijat di bagian paha tapi saya tak mau.

Tetiba….

Dia balik badan dan merosotin kolornya. Kemlannya udah tegak berdiri.

Saya langsung reflek berdiri sambil istighfar dan kedua tangan saya berusaha menutup ke arah kemaluannya biar saya ga lihat aurat bajinga* tengik kutu kupret itu. Jarak saya sama itu ibl*s cuma sekitar 1 meteran.

Saya teriak, “ilbas sirwalak” (pakai celanamu)

Tapi dia malah membentangkan tangannya dan bilang, ta’al, kemarilah.

Saya teriak lagi sekuat tenaga, “ittaqillah…ghaththi ‘auratak!” (bertakwalah kepada Allah… tutup auratmu)

Tapi dia kayak bengong gitu. Mungkin dia agak kaget karena saya teriak kenceng banget dan takut ada tetangga yang dengar.

Saya teriak lagi, kali ini reflek ikut bahasa Banggaliyin, “Enta mafih ma’lum ‘Arabiyyah?” (Kamu ga bisa bahasa Arab ya)

Diapun memakai kolornya lalu berdiri. Ga berhenti di situ, rupanya dia mendekat sambil memperlihatkan gestur mau meluk gitu… Astagfirullah… najong beudh nih om om cabul.

Alhamdulillah Allah Ta’ala berikan kekuatan dan keberanian kpd saya untuk memukul wajahnya sekuat tenaga dengan pernafasan detik beralih sampai dia tersungkur dgn posisi merangkak. Saya pukul lagi punggungnya sampai dia tengkurap. Lalu saya balikin badannya lalu saya cekek leher dia sekuat tenaga pakai dua tangan sampai mukanya memerah kayak tomat.

Kejadiannya begitu cepat Alhamdulillah. Dia ga ada kesempatan untuk melawan. Kalau dia melawan, tentu tenaga saya kalah jauh karena perbedaan postur dan bb yang sangat jauh.

Tapi alhamdulilah saya segera sadar, khawatir dia mati kehabisan nafas. Tangan kiri saya masih tetap nyekik leher dia tapi tangan kanan saya angkat dan sambil mengepal siap mendaratkan bogem mentah, saya ancam,

“Ifatahil bab, wa illa laaqtulannak!” (Buka pintunya, kalau ga, pasti kubu*nuh kau)

Dia pun mengangguk dan saya lepas cekikan di lehernya. Lalu dia duduk sambil megangin lehernya.

Dia minta maaf dan beralasan bahwa dia sedang ada masalah dengan istrinya. Sudah lama istrinya kembali ke rumah orang tuanya di Madinah.

Tapi saya yakin itu hanya alasan pembenaran dia saja.

Saya teriak, “sari’, mafih girgir waftahil bab!” (Cepat, gausah banyak cingcong. Buka pintunya)

Dia masuk ke dalam kamar untuk mengambil kunci. Saya sih khawatir dia mau ambil sajam atau pistol, tapi alhamdulillah dia ambil kunci lalu membuka pintu.

Tanpa babibu saya ambil kresek isi gombalan saya lalu keluar jalan kaki. Ternyata saya harus jalan kaki cukup jauh sampai ke halte bus Saptco yang membawa saya ke Makkah.

Alhamdulillah… sing penting selamet.

Pelajaran dari pengalaman ini;

  1. Selalu ingat Allah dan memohon perlindungan kepada-Nya di saat genting.
  2. Setelah pertolongan dari Allah, keberanian dan mental yang kuat itu bisa dipupuk dari belajar bela diri. Karena kita terbiasa turgul atau sparing dan minimal menguasai teknis dasar pukulan dan tendangan yang efektif.
  3. Jangan terkecoh dengan penampilan luar. Penampilan shalih belum tentu hatinya baik. Betapa banyak terdakwa atau terpidana yang tetiba pakai peci dan kerudung.
  4. Bahanya teror kaum pel*ngi itu nyata dan makin masif. Edukasi anak-anak kita dari modus-modus mereka dalam menjerat korban.
  5. Tidak mudah percaya dengan orang asing. Selalu waspada.

Semoga bermanfaat

(Abu Razin Muhammad Taufiq)

*fb

Komentar