Oleh: Dahlan Iskan
Ini perkembangan genting –tidak hanya penting. Serial tulisan dari Mesir pun harus saya hentikan dulu. Diganti tulisan yang bersifat menghibur berikut ini.
Saya sih bisa membaca kegundahan pikiran Presiden Donald Trump sekarang ini: “Amerika Serikat ini diajak maju saja kok sulit sih!?”
Trump tidak hanya gundah. Ia geram. Marah. Jengkel. Semua jadi satu. Apalagi ia tidak berpuasa Ramadan. Emosinya meledak seketika –dasar ia tipe orang yang meledak-ledak.
Tapi yang dihadapi kali ini adalah lembaga yang kekuasaannya lebih tinggi dari Presiden Amerika: Mahkamah Agung negara federal.
Presiden Trump bisa marah pada mereka tapi tidak bisa kalau tidak melaksanakan putusan mereka: tarif impor yang diputuskan Trump dinyatakan tidak sah. Ilegal. Melanggar konstitusi. Harus dibatalkan.
Bayangkan, putusan seorang presiden yang begitu berkuasa bisa dibatalkan oleh pengadilan.
Amerika pun kacau! Padahal tarif impor yang amat tinggi itu sudah telanjur dilaksanakan sejak tahun lalu. Ada yang mulai Juni 2025 ada yang Agustus.
Kapan mulainya: suka-suka Trump. Seberapa tingginya: suka-suka Trump.
Kadang tinggi sekali, lalu, tiba-tiba ia turunkan. Kadang, setelah ia turunkan sedikit, ia naikkan lagi berlipat ganda.
Pokoknya suka-suka Trump. Apalagi terhadap Tiongkok. Tercampur antara emosi dan balas dendam. Awalnya kekejaman terhadap Tiongkok itu dikira dilatarbelakangi sentimen ras. Terlihat dari berbagai isi pidato Trump: ia ingin mengembalikan kejayaan peradapan bangsa Barat.
Ternyata belakangan Trump tidak pandang warna bulu. Musuh terbesarnya bukan lagi Tiongkok. Pindah ke tetangga terdekatnya sendiri: Kanada. Sesama kulit putih. Sahabat terdekat. Terlama. Sudah seperti saudara kembar.
Tiongkok masih terlihat emosi ketika melawan Trump. Tit for tat. Kanada tidak terlihat emosi sama sekali. Mark Carney, perdana menteri Kanada, bukan tipe sumbu pendek. Ia tipe banker: dingin, diam, taktis, penuh perhitungan. Tapi justru membuat Trump lebih emosi.
Kanada diam-diam memutuskan: Amerika tidak bisa lagi dipercaya. Lalu mengambil langkah untuk bersahabat dengan Tiongkok, negara Teluk, Eropa, dan Amerika Latin.
Akibatnya, Kanada sakit –kehilangan pasar terbesarnya– tapi sudah bertekad untuk mandiri dari Amerika. Sakit sementara tapi merdeka di akhirnya.
Maka Trump pun tidak dipercaya. Pun oleh negara-negara sekutunya.
Kini Trump tidak dipercaya oleh Mahkamah Agungnya sendiri. Trump harus membatalkan keputusannya.
Berarti tarif bea masuk impor Amerika kembali ke aturan lama: antara hanya 2 sampai 3 persen. Terendah di dunia. Hanya beberapa produk pertanian yang antara 5 sampai 15 persen.
Tiongkok telanjur dikenakan 50 persen lebih. Kanada bervariasi antara 10 sampai 50 persen. Indonesia telanjur senang terkena 19 persen.
Indonesia ceria karena awalnya terkena 32 persen. Lalu berhasil turun karena bersedia mengenakan tarif 0 persen bagi banyak barang Amerika yang masuk Indonesia.
Keputusan Mahkamah Agung itu tentu membuat Trump luar biasa marah. Bukan saja reputasinya kian hancur juga ambisinya memajukan Amerika kandas! Ia pasti punya perasaan: di negara demokrasi itu sulit membuat terobosan demi kemajuan bangsa!
Padahal dengan tarif barunya itu Trump ingin agar Amerika jangan lagi hanya dijadikan pasar oleh negara lain. Agar harga barang dari negara lain kian mahal. Lalu rakyat Amerika terpaksa membeli barang produk Amerika sendiri. Industri di Amerika pun akan seperti laki-laki yang baru dapat viagra.
Memang uang masuk dari kenaikan tarif itu bertambah deras. Pendapatan Amerika dari bea masuk itu naik drastis: dari USD10 miliar menjadi USD30 miliar. Defisit perdagangannya menyempit.
Tapi apakah industri dalam negeri Amerika kembali tegak? Tidak. Pembeli di Amerika tetap membeli barang impor dengan harga baru. Akibatnya inflasi naik. Rakyat berteriak: harga-harga kian mahal.
Apakah lowongan kerja di Amerika kian banyak? Tidak. Selama tarif itu justru terjadi PHK sebanyak 90.000 orang. (Jangan dibayangkan kena PHK di sana itu susah. Di samping pesangonnya tinggi, gampang cari pekerjaan lain). Intinya tujuan memajukan industri di dalam negeri belum tercapai. Entah kalau tarif baru itu bisa berlangsung dalam kurun yang lama.
Sayangnya tidak sampai satu tahun. Sudah dibatalkan oleh Mahkamah Agung. Putusan itu final. Tidak bisa naik banding. Trump harus melaksanakannya. Kalau tidak ia dianggap melanggar konstitusi. Dilengserkan.
Trump jadi presiden bulan Januari 2025. Februari sudah menetapkan tarif baru. April sudah berlaku –disebut sebagai Hari Kemerdekaan Amerika yang kedua.
Pokoknya Trump jadi jagoan terhebat sedunia. Tembak sana tembak sini. Semua lawannya tewas. Hanya ada satu yang pura-pura tewas: Mark Carney. Lalu jadi hantu bagi Amerika.
Mungkinkah Trump tetap berlaku sebagai jagoan galak di depan Mahkamah Agung? Mungkinkah Trump tidak melaksanakan perintah itu?
Secara normal tidak mungkin. Tapi Trump bukan orang normal. Ia upnormal –meminjam nama sebuah restoran di Bandung yang semula saya baca abnormal.
Trump petarung sejati. Di tengah kejengkelan dan kemarahannya ia bisa cari cara lain: tetap mengenakan tarif bea masuk tinggi dengan cara mengganti dasar hukumnya.
Tarif tingginya selama ini menggunakan dasar UU IEEPA: International Emergency Economic Powers Act.
UU itu diputuskan di hari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1977. Ketika Trump menggunakannya umurnya sudah 35 tahun.
Justru penggunaan UU darurat itulah yang oleh Mahkamah Agung dinilai tidak sah. UU darurat tersebut dinilai tidak boleh digunakan untuk itu. Tarif adalah pajak. Setiap kenaikan pajak harus minta persetujuan parlemen. Sedang tarifnya Trump itu diputuskan sendiri oleh seorang presiden.
Maka bisa saja pikiran jagoan Trump sekarang ini adalah: cari UU lain. Siapa tahu ada UU selain itu yang bisa dipakai dasar menaikkan tarif. Ada. Tapi sebatas boleh naik hanya sampai 10 persen saja.
Kalau hanya 10 persen, tidak ada artinya. Indonesia saja sudah sorak sorai dapat tarif 19 persen. Apalagi 10 persen.
Bagi Tiongkok 10 persen itu lebih mudah lagi. Cukup mengubah nilai kurs yuan sedikit. Sudah akan sama dengan nol persen.
Atau Trump akan menempuh jalan yang lebih terjal: nekat minta persetujuan parlemen. Toh parlemen dikuasai Partai Republik. Kalau perlu dengan mengancam beberapa anggota parlemen yang potensial jadi pembelot.
Pertunjukan selanjutnya masih akan seru. Untuk sementara kita tonton saja dulu pertunjukan penuh kejutan di Amerika itu. Jangan anggap artikel ini berat untuk dibaca di hari Minggu. Anggap saja ini hiburan.
Bagi yang mulai tidak percaya demokrasi: lihatlah Amerika! Demokrasi begitu murni di sana. Keputusan presiden yang begitu penting dibatalkan oleh sistem demokrasi: berkat hukum independen dari kekuasaan eksekutif. (Dahlan Iskan)






