Wacana pergeseran kekuatan ekonomi global kembali menguat. Kali ini datang dari Asia Tenggara. Meski mata uang bersama BRICS belum resmi diluncurkan, sembilan negara anggota ASEAN dikabarkan telah menyatakan kesiapan untuk menerimanya sebagai alat transaksi di masa depan. Sikap ini memunculkan pertanyaan besar: apakah dominasi dolar Amerika Serikat mulai memasuki babak akhir?
Langkah tersebut dinilai sebagai sinyal politik dan ekonomi yang tidak bisa dianggap remeh. BRICS yang beranggotakan Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan selama beberapa tahun terakhir secara terbuka mendorong agenda dedolarisasi, yakni upaya mengurangi ketergantungan dunia terhadap dolar AS dalam perdagangan internasional.
Mata Uang yang Belum Lahir, tapi Sudah Diterima
Yang menarik, kesediaan negara-negara ASEAN ini muncul bahkan sebelum konsep teknis mata uang BRICS benar-benar jelas. Belum ada nama resmi, belum ada mekanisme nilai tukar, dan belum ada tanggal peluncuran. Namun komitmen politik sudah lebih dulu diberikan.
Sembilan negara ASEAN yang disebut siap menerima mata uang BRICS adalah Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Kesepakatan ini disebut akan difokuskan pada transaksi perdagangan bilateral maupun kerja sama ekonomi lintas negara jika mata uang tersebut resmi beredar.
Langkah kolektif ini mencerminkan keinginan kuat untuk mendiversifikasi risiko ekonomi global, terutama di tengah ketegangan geopolitik, sanksi ekonomi sepihak, serta fluktuasi kebijakan moneter Amerika Serikat yang berdampak luas ke negara berkembang.
ASEAN Membaca Arah Angin Global
Bagi ASEAN, membuka pintu terhadap mata uang BRICS bukan semata soal mengganti dolar, melainkan memperluas opsi. Selama ini, dominasi dolar membuat banyak negara rentan terhadap tekanan eksternal, mulai dari kenaikan suku bunga bank sentral AS hingga sanksi finansial berbasis sistem pembayaran global.
Dengan menerima mata uang alternatif, ASEAN berupaya memperkuat posisi tawar kawasan dan menjaga stabilitas ekonomi regional. Ini juga menunjukkan bahwa pengaruh BRICS kini tidak lagi terbatas pada negara anggotanya, tetapi mulai merambah kawasan strategis lain.
Tantangan Nyata di Balik Ambisi Besar
Meski terlihat menjanjikan, jalan menuju realisasi mata uang BRICS tidak akan mudah. Tantangan besar masih mengadang, mulai dari menentukan nilai tukar yang adil, membangun kepercayaan pasar internasional, hingga menyatukan kepentingan ekonomi negara-negara BRICS yang sangat beragam.
Tanpa fondasi stabilitas dan transparansi yang kuat, mata uang baru ini berisiko hanya menjadi simbol politik, bukan instrumen ekonomi yang benar-benar digunakan secara luas.
Dolar AS Terancam, tapi Belum Tumbang
Kesediaan sembilan negara ASEAN menerima mata uang BRICS jelas merupakan peringatan serius bagi dominasi dolar AS. Namun menyebut era dolar benar-benar berakhir masih terlalu dini. Yang lebih tepat, dunia sedang bergerak menuju sistem moneter multipolar, di mana dolar tidak lagi berdiri sendirian.
Satu hal yang pasti, langkah ASEAN ini mengirim pesan kuat bahwa ketergantungan tunggal pada satu mata uang global mulai dipertanyakan, dan perubahan besar dalam arsitektur keuangan dunia kini bukan lagi sekadar wacana.







Komentar