Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memperingatkan bahwa Amerika Serikat akan “sangat menyesal” setelah serangan torpedo yang menenggelamkan kapal perang Iran IRIS Dena di perairan internasional. Serangan itu menewaskan puluhan pelaut Iran.
Insiden tersebut terjadi ratusan mil di Samudra Hindia, di lepas pantai selatan Sri Lanka jauh dari Teluk Persia, wilayah yang selama beberapa hari terakhir menjadi pusat konflik militer antara Iran dengan koalisi Amerika Serikat dan Israel.
Araghchi menyebut serangan itu sebagai tindakan keji di laut terbuka.
“Amerika Serikat telah melakukan kekejaman di laut, sekitar 2.000 mil dari pantai Iran. Fregat Dena, yang sedang menjadi tamu Angkatan Laut India dengan hampir 130 pelaut di dalamnya, diserang tanpa peringatan di perairan internasional,” tulis Araghchi melalui akun X pada Kamis.
“Catat kata-kata saya: Amerika Serikat akan sangat menyesali preseden yang mereka ciptakan ini.”
Menurut laporan, kapal perang IRIS Dena dihantam torpedo yang diluncurkan dari kapal selam Amerika Serikat pada Rabu, hingga akhirnya tenggelam. Wakil Menteri Luar Negeri Sri Lanka mengatakan kapal tersebut sedang dalam perjalanan kembali ke Iran setelah meninggalkan pelabuhan di wilayah timur India.
Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, secara terbuka mengakui serangan tersebut. Dalam pernyataan di Pentagon, ia mengatakan kapal perang Iran itu diserang saat berada di perairan internasional.
“Sebuah kapal selam Amerika menenggelamkan kapal perang Iran yang mengira dirinya aman di perairan internasional,” kata Hegseth. “Kapal itu dihantam torpedo—kematian yang sunyi.”
Pihak rumah sakit di kota pelabuhan Galle, Sri Lanka, melaporkan sedikitnya 87 jenazah pelaut telah dievakuasi oleh tim penyelamat militer setelah menerima sinyal darurat pada pagi hari.
Selain itu, 32 pelaut berhasil diselamatkan dan saat ini dirawat di rumah sakit. Namun sekitar 60 awak kapal lainnya masih dinyatakan hilang dari total sekitar 180 orang yang berada di kapal tersebut.
Sebelum insiden itu terjadi, IRIS Dena diketahui baru saja mengikuti latihan militer angkatan laut yang diselenggarakan India di Teluk Benggala pada 18–25 Februari.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengumumkan bahwa pasukan lautnya telah menyerang sebuah kapal tanker minyak Amerika di bagian utara Teluk Persia pada Kamis pagi. Serangan itu diklaim menyebabkan kapal tanker tersebut terbakar.
Sejak akhir pekan lalu, unit laut dan dirgantara IRGC bersama militer Iran juga melancarkan serangan rudal besar-besaran terhadap aset militer Amerika di sejumlah negara kawasan serta target di wilayah yang diduduki Israel.






