Sebanyak 261 penerima manfaat program makan bergizi gratis (MBG) di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, dilaporkan mengalami keracunan.
Para korban dilarikan ke sejumlah rumah sakit setelah menyantap menu soto ayam dari satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 pada Jumat, 9 Januari 2026.
“Total yang ditangani melalui posko 261 anak. Posisi pasien yang pulang atau rawat jalan 140 anak, dirawat di rumah sakit dan Puskesmas 112 anak, dirawat di posko 9 anak,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto Dyan Anggrahini Sulistyowati kepada detikJatim, Minggu (11/1/2026).
Dyan memastikan jumlah korban berpotensi lebih dari 261 orang karena sebagian pasien datang langsung ke fasilitas kesehatan, antara lain Puskesmas Pacet, Gondang, Kutorejo, RSUD Prof dr Soekandar, RS Sumberglagah, RS Kartini, RS Mawaddah Medika, serta RSI Arofah.
Keracunan massal ini diduga terjadi setelah para pelajar dan santri menyantap MBG menu soto ayam dari SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 di Dusun Rejeni, Desa Wonodadi, Kutorejo, Mojokerto, pada Jumat (9/1) siang. Gejala mulai dirasakan pada Jumat malam hingga Sabtu pagi.
Korwil BGN Mojokerto Rosidian Prasetyo menjelaskan, dapur MBG tersebut melayani 2.679 siswa dari 20 lembaga pendidikan.
Operasional SPPG Dihentikan Sementara
Menurutnya, penghentian operasional dilakukan sampai investigasi selesai.
“Senin besok (hari ini -red) kami pastikan off, surat penghentian operasional SPPG (Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 Ponpes Al Hidayah) sudah turun kemarin malam dari BGN,” ucap Rosidian kepada detikJatim.
“Kalau dirasa melanggar aturan yang ada, pasti kami tutup permanen. (Apabila ada unsur pidana?) Apabila nanti ada anomali yang merujuk ke (kesalahan) SDMnya, ada temuan, ada bukti, kami proses dengan hukum yang ada,” imbuhnya.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak memastikan ratusan orang itu kini telah mendapat penanganan medis.
“Ini tentu sesuatu yang kita semua memberikan atensi maksimal agar para siswa-siswi atau penerima manfaat yang terdampak secara medis bisa mendapat penanganan terbaik,” ujarnya setelah meninjau posko pelayanan kesehatan korban keracunan massal di Pondok Pesantren Ma’had An Nur, Desa Singowangi, Kutorejo, Mojokerto, seperti dilansir Antara pada Minggu, 11 Januari 2025.

Ratusan korban tersebut merupakan pelajar dan santri dari tujuh lembaga di Mojokerto. Mereka mengeluhkan mual, muntah, demam, dan diare. Mayoritas korban mendapat perawatan medis di RSUD Prof. dr. Soekandar, Mojosari, Mojokerto.
Emil Mengimbau masyarakat yang sebelumnya mendapatkan MBG dari SPPG yang sama dan mengalami keluhan mual dan muntah untuk segera melapor ke posko agar segera mendapatkan pertolongan. “Semua biaya perawatan dan pengobatan korban terdampak akan ditanggung pemerintah,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Emil juga meminta SPPG dan semua pihak terkait ikut menelusuri penyebab keracunan.
Ia meminta semua faktor yang bisa menyebabkan keracunan, seperti bahan makanan, proses pengolahan, kebersihan wadah makanan, serta sistem distribusi, dievaluasi.
“Kami ingin memperoleh gambaran yang utuh agar ke depan sistem dapat diperbaiki dan diperkuat,” ujarnya.
Sumber: DETIK







Komentar