أهداف إسرائيل في سوريا
TUJUAN ISRAEL DI SURIAH
Oleh: Ahmad Mansour (Wartawan Senior Timteng)
Segera setelah jatuhnya rezim Assad pada 8 Desember 2024, Israel mulai menduduki wilayah strategis di Suriah dan terus memperluas pengaruhnya. Selain itu, Israel tidak berhenti membombardir fasilitas militer dan sipil dengan tujuan sebagai berikut:
1. Menghancurkan Kekuatan Militer
Israel berusaha menghancurkan segala bentuk kapasitas militer, gudang senjata, atau fasilitas yang dapat digunakan oleh pemerintah baru untuk membangun kembali kekuatannya. Israel menyadari bahwa konfrontasi dengan Suriah di masa depan tidak terelakkan, sehingga mereka berupaya mencegah atau setidaknya menundanya.
2. Menciptakan Realitas Baru di Suriah
Dengan menduduki wilayah dan lokasi strategis, Israel berupaya menciptakan kondisi yang memungkinkannya untuk menetapkan syarat dalam negosiasi apa pun dengan pemerintah baru.
3. Melemahkan Kredibilitas Pemerintahan Baru
Israel ingin mempermalukan pemerintah baru di hadapan rakyatnya dengan menunjukkan ketidakmampuannya dalam menahan agresi Israel, yang pada akhirnya akan mengikis basis dukungan masyarakat terhadap pemerintahan tersebut.
4. Mendorong Pemberontakan Kelompok Minoritas
Israel berusaha mendorong sisa-sisa rezim sebelumnya serta kelompok minoritas, khususnya Alawi dan Druze, untuk memberontak. Israel bahkan secara terbuka menyatakan dukungannya bagi mereka, menjadikan mereka faktor ketidakstabilan utama di dalam negeri.
5. Menekan dan Mengancam Turki
Sebagai sekutu utama rezim baru di Suriah, Turki menjadi target ancaman Israel. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, telah menyatakan bahwa konfrontasi dengan Turki di wilayah Suriah tidak bisa dihindari.
6. Menghambat Aliansi Turki-Suriah
Israel khawatir jika Turki menjalin perjanjian pertahanan bersama dengan pemerintah baru di Suriah, yang akan memaksanya berhadapan langsung dengan Turki. Oleh karena itu, Israel berusaha menggagalkan skenario ini melalui sekutunya.
7. Mempersiapkan Pembagian Suriah
Israel merancang skenario pembagian Suriah menjadi empat negara kecil atau setidaknya empat wilayah otonom:
- Negara Kurdi di timur yang bersekutu dengan AS dan Israel.
- Negara Druze di selatan yang bersekutu dengan Israel.
- Negara Alawi di pesisir yang bersekutu dengan Rusia dan Israel.
- Mayoritas Sunni yang terpinggirkan ke wilayah tengah dan sebagian utara.
Kesimpulan
Tantangan yang dihadapi pemerintah baru di Suriah sangat besar, baik dari ancaman internal maupun eksternal. Selain menghadapi pemberontakan minoritas dan sisa-sisa rezim lama di dalam negeri, Suriah juga dikelilingi oleh negara-negara yang sebagian besar bersikap bermusuhan. Oleh karena itu, pemerintah baru sangat membutuhkan sekutu kuat, terutama Turki, agar dapat mengukuhkan kekuasaannya dan menghadapi ancaman ini. Salah satu langkah terpenting yang harus diambil adalah melakukan tindakan tak terduga yang dapat menggagalkan rencana Israel, sesuatu yang hanya bisa dijawab oleh perkembangan waktu yang akan datang.
(Sumber: https://bitly.cx/9Jluw)