NETANYAHU MERASA TERANCAM DENGAN PEMERINTAHAN BARU SURIAH

[PORTAL-ISLAM.ID] Dilaporkan bahwa Israel telah melobi Amerika Serikat untuk menjaga Suriah tetap lemah dan terdesentralisasi, salah satunya caranya dengan membiarkan Rusia untuk mempertahankan pangkalan militernya di Suriah demi melawan pengaruh Turki yang semakin besar di Suriah.
Israel telah secara terbuka menyatakan ketidakpercayaannya terhadap faksi jihadis Hayat Tahrir al-Sham (HTS), yang telah menggulingkan Assad. Netanyahu bahkan mengatakan bahwa Israel tidak akan menoleransi kehadiran pejuang HTS di Suriah selatan, Netanyahu menuntut wilayah Suriah selatan agar didemiliterisasi demi mengamankan Israel dari segala ancaman.

Israel juga mengatakan bahwa pemerintahan baru Suriah dibawah kepemimpinan Syaikh Ahmad al Sharaa telah menimbulkan ancaman serius bagi perbatasannya, Israel meyakini bahwa suatu saat pasukan dari pemerintahan baru Suriah akan menyerang wilayah Israel.

Untuk itu, Israel ngotot melobi AS agar ia melakukan dialog dengan Rusia agar pangkalan militernya disana tetap berdiri, hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mengurangi pengaruh Turki yang ada di Suriah.

Karena bagi Israel kedekatan Turki dengan pemerintahan baru Suriah, akan membuat peta kekuatan di Timur tengah akan berubah dan beresiko mengancam keamanan Israel dalam jangka panjang, hal itu diungkap oleh Aron Lund salah seorang peneliti lembaga Century Internasional yang berbasis di AS.

"Ketakutan terbesar Israel adalah Turki datang dan melindungi tatanan Islamis Suriah baru ini, yang kemudian nantinya akan menjadi basis bagi Hamas dan militan lainnya (untuk melawan balik Israel)," kata Aron Lund, seorang peneliti di lembaga pemikir Century International yang berbasis di AS.

Presiden Turki Tayyip Erdogan mengatakan pada tahun lalu bahwa negara-negara Islam harus membentuk aliansi melawan apa yang disebutnya "ancaman ekspansionisme yang berkembang" dari Israel.

Baca juga :