Ini jawaban kenapa orang NU aneh-aneh
Suatu ketika, diadakan acara pelantikan tokoh-tokoh Cabang NU di salah satu kecamatan. Yang hadir tentu saja mereka yang dianggap alim di desanya makanya dipercaya jadi ketua ranting dan pengurus cabang NU setempat. Dari tingkat provinsi, diutus pemateri untuk memberikan pembekalan kepada mereka yang akan dilantik.
Di tengah pembekalan, pemateri bertanya, “Siapa di sini yang pernah mendengar kitab Qanun Asasi karya Mbah KH. Hasyim Asy’ari?”
Suasana langsung hening. Tak ada satu pun yang mengangkat tangan. Melihat itu, pemateri mengulang lagi pertanyaannya dengan lebih tegas.
Namun tetap sama, hanya Saya yang akhirnya mengangkat tangan.
“Ternyata di semua daerah sama saja banyak yang nggak tau,” keluh pemateri.
Saya terkejut, tapi juga prihatin. Bagaimana mungkin mereka yang akan dilantik sebagai pengurus NU yang tugasnya memimpin ranting dan menjaga ajaran NU di desa-desa, bahkan tidak pernah mendengar kitab Qanun Asasi? Padahal, kitab ini berisi prinsip-prinsip dasar NU, semacam AD/ART ideologis organisasi.
Mirip seperti orang Indonesia yang tidak pernah tahu apa itu Pancasila. Mirip anak kuliah yang nggak tau nama Rektornya. Tentu ini masalah besar, karena tanpa memahami fondasi ideologisnya, bagaimana mereka bisa memperkuat dan membimbing jamaah di wilayah masing-masing?
Dari sini saya mengambil kesimpulan, kalau banyaknya solawat joget-joget yang disponsori oleh orang orang NU bahkan ada Gus dakwah pakai DJ itu sebenarnya menandakan mereka buta sama AD/ART NU. Seandainya mereka membaca kitab Tanbihat Wajibat Yasnaul Maulid tulisan KH Hashim Asy’ari sendiri beliau melarang keras maulid yang diisi joget-joget.
Ritual sedekah laut, jaga gereja, dan segala kenyelenehan seperti itu yang berawal dari mereka buta literasi ajaran NU.
Masalahnya NU tidak pernah menfilter siapapun, yang penting pake songkok NU udah dianggep NU. Politikus aja jadi NU kayak Erick Thohir. Bahkan ketika ada Kapolri Listyo Sigit sowan ke KH. Aqil beliau dilantik jadi NU cabang Kristen. Jadi emang seleksinya kurang ketat. Semoga tulisan ini jadi berbenah.
(Ngopidiyyah)