HARI RAYAKU DAN HARI RAYA DI GAZA
Hari rayaku
dimulai dengan takbir dan pelukan.
Anak-anak berlarian
di halaman yang harum oleh kue dan doa-doa pendek.
Hari raya di Gaza
dimulai dengan ledakan, sirene, dan reruntuhan.
Seorang anak duduk di puing-puing,
menunggu suara yang tak lagi menjawabnya: ibu.
Aku mengenakan baju terindah,
menyapu wajah dengan bedak dan senyum.
Ia menggenggam segenggam tanah
yang belum sempat jadi kuburan
untuk ayahnya.
Aku mengucapkan: "Selamat Idulfitri,"
sambil mengunyah nastar
di ruang tamu yang sejuk oleh pendingin udara.
Anak-anak di Gaza menahan tangis
dalam antrean amputasi tanpa anestesi.
Tubuh mereka tak henti diburu peluru,
perut mereka dihajar haus dan lapar
yang tak sempat dijelaskan oleh khutbah tadi pagi.
Aku menyebut “taqabbalallaahu minnaa wa minkum,”
tapi ragu menegaskan keberpihakan.
Aku bilang “maaf”,
tapi tak pernah sungguh menyesal
atas diam yang tumbuh seperti ilalang
di kebun nurani
yang lama tak disirami.
Mereka menangis
tanpa kamera.
Aku berfoto dalam berbagai pose,
dengan tangan yang tak sempat
menghapus air mata siapa pun.
Aku tak tahu apakah doaku cukup.
Tapi setiap kali kusebut nama-Mu,
ada suara dari Gaza yang ikut menggema,
dan membuatku sangat malu
(Helvy Tiana Rosa, 30 Maret 2025)
Hari raya Idul Fitri di Gaza tahun ini diwarnai kesedihan akibat konflik yang berkepanjangan. #sharingkebaikan #focus #idulfitri2025 #news #videonews #bicarafaktalewatberita #kumparan https://t.co/bX6sXf2yhv pic.twitter.com/U3YfriWh7D
— kumparan (@kumparan) March 31, 2025
Palestinians in Gaza perform Salat al-Eid pic.twitter.com/EFuf4QYl2g
— • (@Alhamdhulillaah) March 30, 2025