Dai Podcast
Oleh: ustadz Muhammad Abduh Negara
Jika kita menemukan ada kesalahan dari penyampaian seorang dai yang tampil di TV, di youtube, atau di podcast-podcast populer, maka bagian dari nasihat, dakwah dan amar ma'ruf nahi munkar, kita sebutkan letak kesalahannya, apakah dari fatwa hukum yang keliru, penafsiran ayat al-Qur'an yang tidak tepat, penjelasan konsep aqidah yang salah, dan lain sebagainya.
Penjelasan semacam ini merupakan kebaikan. Jika ia sampai kepada sang dai, lalu dai tersebut meralat perkataannya, maka ini sangat baik. Jika pun tidak, minimal orang yang membaca atau menyimak penjelasan anda, bisa terhindar dari kesalahan tersebut.
Namun jika anda menyatakan bahwa sang dai itu "berkata tanpa ilmu", "menyebarkan syubhat dan kesesatan", "harus dilarang tampil", atau semisalnya, tanpa menjelaskan letak kesalahannya --sehingga setiap orang yang punya bagian dari ilmu bisa menilai benar tidaknya kritik tersebut--, ini tampak sekadar kata-kata kosong saja tanpa nilai. Mungkin bagi orang yang manut sepenuhnya dengan anda, itu bermanfaat. Tapi bagi banyak orang lainnya, yang mencoba bersikap obyektif, ini sekadar kekeruhan.
Lebih-lebih kalau kita mau bersikap adil, banyak sekali dai-dai yang anda anggap tidak berilmu, bukan lulusan kampus ini dan itu, dan seterusnya, sebenarnya juga memiliki kebaikan dan kontribusi dalam dakwah. Karena itu "membunuhnya" tanpa menjelaskan kesalahannya, adalah sikap yang jauh dari inshaf (adil dan pertengahan).
Demikian pula pada berbagai kelompok dan komunitas umat Islam. Rodja punya kebaikan, Wahdah punya kebaikan, PERSIS punya kebaikan, Muhammadiyah punya kebaikan, NU punya kebaikan, Al-Irsyad punya kebaikan, IM punya kebaikan, JT punya kebaikan, HT punya kebaikan, demikian pula berbagai kelompok dan komunitas lainnya. Mereka tentu punya kekeliruan, namun kebaikannya jangan dilupakan. Dan kalau mau mengkritik, fokus saja pada kesalahannya.
Sebagai contoh, saya beberapa kali mengkritik HT, namun sekian kali juga saya membela mereka dari tuduhan yang tak berdasar dari sebagian pihak. Poin-poin kritik saya pada mereka jelas, meski ada sebagian kader HT yang tampaknya membawa itu ke ranah personal --dan itu urusan mereka dengan Allah ta'ala--, demikian pula poin apresiasi saya kepada mereka jelas juga.
Karena itu, sejak saya dikeluarkan dari HT sekian tahun lalu sampai sekarang, saya tidak pernah sekali pun mengajak orang-orang di sekitar saya untuk keluar dari HT, padahal saya sangat bisa melakukannya. Bahkan ada sekian orang yang curhat kepada saya ingin keluar dari HT. Kepada mereka, saya cuma jelaskan poin kritik dan poin apresiasi saya kepada HT, silakan mereka mempertimbangkan maslahat dan mafsadatnya sesuai keadaan mereka.
Saya juga tidak menyatakan HT sesat atau menyimpang, sebagaimana keyakinan sebagian orang, termasuk sebagian orang yang pernah aktif di HT kemudian keluar. Saya cuma katakan, HT keliru dalam sekian perkara. Itu saja.
Contoh lain, ketika saya mengkritik Ust. Khalid Basalamah, poin kritik saya juga jelas, yaitu kesalahan cukup mendasar beliau dalam "fatwa-fatwa" hukum beliau, yang membuat saya mengambil kesimpulan, beliau tidak bisa dijadikan rujukan dalam bidang hukum a.ka. fiqih bagi kalangan awam. Namun saya tidak menyatakan beliau "harus berhenti ceramah", sebagaimana diminta oleh sebagian orang. Bagi saya, ini tidak perlu dan agak berlebihan.
Bagaimanapun, masih banyak kebaikan dalam dakwah dan ceramah beliau. Aktivitas beliau dalam isu keumatan juga terlihat jelas. Hanya saja, sebaiknya beliau menghindari dulu berfatwa dalam urusan hukum. Serahkan itu pada ahlinya.
Tentu, meski begini, yang fanatik buta pada beliau, tetap akan menyerang saya, tanpa berusaha dengan baik dan tidak tergesa-gesa memahami poin kritik saya tersebut. Ya, namanya juga manusia, sering tergesa-gesa dan senang bermusuhan.
Kembali lagi, setiap orang yang berbicara di depan publik, harus siap dikritik di depan publik juga. Hanya saja, kritik ini harus jelas pada poin apa, di mana letak kesalahannya, yang benar seperti apa, dan seterusnya, tanpa bersikap melampau. Kalau sekadar menuduh tanpa mendatangkan bukti, "Si Fulan berkata tanpa ilmu", semua orang juga bisa. Tapi tidak semua orang berani melakukannya, karena tanggung jawabnya besar di hadapan Allah ta'ala.
Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita semua.
(*)