Ustadz Wahab Rajasam:
Seorang ibu menelpon saya sambil menangis meminta tolong agar anaknya diselamatkan dari pergaulan dan kebiasaan buruk yang sulit dicegah lagi.
"Anak ibu sekolah di tingkat apa?"
"Baru lulus SMA dan akan kuliah. Saya minta tolong ustadz, agar anak saya dimasukan ke pondok ustadz...."
"Sebentar ibu, di pondok kami tidak ada jenjang di atas SMA."
"Saya minta tolong ustadz..."
"Iya saya mau bantu ibu. Tapi kalo masuk pondok belum tentu anak ibu mau karena usia dan juga belajar di jenjang SMA kelas persiapan lagi mundur 4 tahun..."
"Pokoknya saya ingin anak saya dibimbing ustadz,. Anak saya sudah sangat jauh dari agama dan pernah beberapa hari dipenjara akibat perkelahian, anak saya juga perokok berat, bahkan mabuk mabukan."
"Baik begini saja Bu, anak ibu nyantri tapi di rumah saya bukan di pondok."
"Terus belajarnya bagaimana?"
"Saya atur nanti Bu."
Tibalah anak ini bersama ibunya. Saya berkenalan dan mengajukan banyak pertanyaan. Ternyata ada tato di badan anak ini (sebut saja namanya AF) dan tidak bertahan lama ngobrol, langsung merogoh kantongnya untuk merokok. Orang tuanya menegur, namun malah menjadi keributan kecil. Saya bilang, biarkan saja bu.
Ngobrol cukup alot agar anaknya mau tinggal bersama saya di rumah, akhirnya mau (dia tinggal bersama karyawan di rumah makan milik saya yg letaknya bersebelahan dengan rumah saya, anak ini tinggal di lantai 2, sedangkan RM dilantai 1).
Hari pertama saya hanya ngobrol ngobrol ringan saja, sambil saya ajak melihat pondok dan sharing sharing tentang dunia kuliah.
Saya mulai mengajak pemuda ini sholat. Dia bilang "saya ga bisa sholat ustadz!".
Saya tanya padanya, apakah kamu percaya adanya Allah? "Ya ustadz, saya percaya".
Kamu percaya bahwa Allah lah yang menyediakan semua ini untuk kita, Allah yang memberikan kehidupan dan menciptakan kematian?. "Iya ustadz".
Kamu tau hak Allah?. "Tidak ustadz".
Hak Allah atas hambaNya diibadahi dan ditaati serta tidak boleh menjadikan tandingan bagiNya dengan benda/makhluk apapun.
Sedangkan hak hamba terhadap Allah, jika hamba telah beribadah hanya kepadaNya, maka Allah tidak mengadzabnya dan memasukkannya ke surga.
Kamu percaya kematian itu datang pada siapa saja tidak peduli sehat/sakit, tua/muda, kaya/miskin, sedang ibadah/maksiat? "Iya ustadz".
Maka apakah kamu akan tenang jika suatu saat kamu dicabut nyawanya dalam kondisi tidak sholat?
"Iya ustadz, saya takut kalo mati nanti dalam keadaan seperti saat ini. Saya mau belajar sholat".
Alhamdulillah. Disela sela belajar sholat, mulai saya ajak untuk terlibat kegiatan pondok, kebetulan pemuda ini senang berenang. Lalu saya ajak berenang dan ternyata luar biasa kemampuannya. Maka saya minta bantuannya untuk melatih para santri. Terlihat dia sangat senang dan bersemangat, para santri pun sangat senang karena kemampuan berenang nya di atas rata rata.
Mulai saya buat jadwal ngaji dan tausiyah hingga jadi agenda rutin harian.
Lalu saya ajak ke pelosok desa untuk melihat keadaan anak anak kecil di kampung yang begitu bersemangat belajar agama, meski kondisinya sangat miskin.
Begitu saya tiba bersama pemuda ini... Semua anak anak berlarian menyambut saya. Lalu saya tanyakan ke pemuda ini. Apa yang kamu rasakan? Terharu dan sedih ustadz, mereka sejak kecil semua bersemangat dengan sholat dan ngaji. Sedangkan saya belum bisa seperti mereka.
Hari itu dia berkurang merokoknya karena mulai sibuk aktivitas. Hingga saya memberanikan diri untuk membicarakan kebiasaan merokoknya. Setelah pemuda ini saya bimbing belajar membaca Alquran saya tanya "Kamu tau ga, kenapa saya tidak merokok?" Tidak ustadz!. Saya tidak merokok karena saya sayang sama keluarga saya dan orang disekeliling saya. Kenapa ustadz?. Coba baca baik baik yg tertulis dibungkus rokok itu. Dan uang untuk beli rokok itu kalo diberikan kepada anak anak miskin kemarin yang kita temui akan sangat berharga bagi mereka.
"Kalo begitu ambil saja uang saya ustadz berikan pada mereka (dia menjawab dengan agak ngeyel)."
Alhamdulillah akhirnya pemuda ini bersepakat untuk mengurangi rokoknya, dari 2 bungkus 1 hari hingga akhirnya hanya 1 batang dan berhenti selama hampir 1 bulan (dengan terus distimulus). Sholat sudah mulai ada kesadaran hingga malah ngajak ke masjid bareng. Ngaji lumayan lancar.
Dan akhirnya dia pulang dengan perubahan mindset dan perilaku.
(fb)