MASA DEPAN SURIAH
By Saief Alemdar
Setelah Bashar Assad kabur dari Suriah pada 8 Desember 2024 lalu, dia meninggalkan banyak “ranjau” untuk siapapun yang akan masuk ke Istana Presiden Suriah. Dimulai dari bank sentral yang kosong; infrastruktur yang hancur di seluruh wilayah Suriah; luka sosial yang mendalam akibat puluhan penjara rahasia dan orang-orang yang dihilangkan secara paksa, yang jumlahnya menurut PBB lebih dari 100.000 orang; sampai kehadiran militer dan kekuatan internasional dan regional di Suriah.
Namun selain ranjau-ranjau itu, ada ranjau lain yang tidak kalah berbahaya, seperti status pemenang dalam perebutan kekuasaan ini, yaitu Ahmad Shara dan organisasinya yang masih berada dalam daftar teroris bagi sejumlah negara-negara besar, selain kekhawatiran tentang realitas orientasi ideologis dan intelektual mereka, dan bentuk negara baru dan sistem pemerintahannya, serta bagaimana menangani minoritas etnis dan sektarian yang banyak terdapat di Suriah.
Apapun penilaian kita terhadap penguasa baru di Suriah, yang pasti ranjau-ranjau tadi adalah fakta yang harus dihadapi dengan penuh kehati-hatian, karena ledakan ranjau itu dampaknya bisa menjadi penderitaan baru bagi rakyat Suriah. Oleh karena itu, pemerintah baru di Suriah dituntut untuk membongkar ladang ranjau itu dengan penuh hikmat dan kebijaksanaan, sejak awal mereka masuk ke ibukota Damaskus.
Sejauh ini, upaya membongkar ranjau oleh Ahmad Shara dan timnya sudah sangat baik, setidaknya narasi yang dibangun telah berhasil menumbuhkan kepercayaan masyarakat internasional terhadap pemerintah Suriah yang baru yang dipimpin oleh Presiden Ahmad Shara. Janji-janji yang disampaikan seperti pemerintahan yang demokratis, inklusitas, dan komprehensif, serta pembangunan Suriah untuk seluruh rakyat Suriah, sangat diterima oleh Barat.
Hal itu diindikasikan oleh sejumlah perkembangan, seperti peningkatan engagement internasional dengan Suriah, sejauh ini tercatat 23 Kepala negara telah menyampaikan selamat kepada Presiden Suriah dan 30 negara telah mengirimkan delegasinya ke Suriah. Disamping kehadiran Suriah dalam sejumlah konferensi internasional seperti World Government Summit di Abu Dhabi, dan Munich Security Conference di Jerman, ataupun konferensi yang diadakan khusus untuk membahas tentang Suriah, seperti Paris Conference on Syria di Paris, Economic Conference di kota Al Ula, Saudi Arabia. Sebelumnya, mana pernah diundang Suriah ke Munich Security Conference ataupun pertemuan seperti Paris Conference, yang sebelumnya ada seperti Brussel Conference to Support Syria yang berjilid-jilid itu, jilid terakhir adalah Brussel VIII!
Narasi itu penting untuk membangun trust, kalau masih ingat dengan pidato salah satu pempimpin ISIS, Abu Muhammad al-Adnani yang tergolong pidato agresif, bahkan terang-terangan bermusuhan terhadap negara-negara regional yang terlibat dalam konflik Suriah, terhadap negara-negara besar, bahkan terhadap faksi-faksi Suriah lainnya, sampai-sampai dia bersumpah akan memerangi wilayah-wilayah yang telah dikuasai oleh faksi-faksi bersenjata di Suriah saat itu, yang membuat semua pihak bersatu melawannya.
Sebaliknya, pemimpin pemerintahan baru Suriah, Ahmad Shara, membangun narasi yang baik, menyajikan wacana politis yang berupaya menenangkan semua pihak yang mungkin akan melawannya bahwa Suriah baru bukanlah ancaman bagi siapapun, sembari berupaya membangun basis bagi aliansi internal dan eksternal guna mengatasi tantangan yang ada, khususnya sanksi ekonomi.
Internal, Ahmad Shara membangun narasi bahwa pemerintahannya terbuka untuk semua rakyat Suriah, dan mengatakan bahwa bukan dia yang membebaskan Suriah dari tirani, tetapi semua rakyat Suriah yang telah berkorban, merupakan pembebas Suriah.
Regional, Ahmad Shara membangun narasi bahwa Suriah yang baru akan menghormati kedaulatan negara lain, khususnya Lebanon, yang selama ini dianggap oleh pemerintahan Assad sebagai provinsi ke 15 Suriah!
Internasional, Ahmad Shara mengusung tema narasinya bahwa Suriah akan menjadi sahabat bagi semua negara yang mau menjadi sahabat Suriah. Sepertinya, selama di Idlib, Ahmad Shara sudah berkali-kali khatam buku mantan PM Turki, Ahmet Davutoğlu: Strategic Depth: Turkey's Role in the International Arena (Stratejik Derinlik: Türkiye'nin Uluslararası Konumu), yang menawarkan sebuah konsep “zero-problem strategy” dengan tetangga, ''If you want good examples of cultures living in harmony, you look to Ottoman cities: İstanbul, Bagdad, Sarajevo.''
Kita tunggu implementasi janji-janji Presiden Ahmad Shara pada tanggal 1 Maret 2025 mendatang, apakah kabinet yang akan diumumkan nanti akan inklusif, meritokrasi, dan komprehensif seperti yang dijanjikan? Atau akan kita lihat kabinet bagi-bagi jatah, kabinet satu warna, atau kabinet dream team (kabinet ngimpi)! Biarlah waktu yang menjawab…..
(21-02-2025)
*Foto: Presiden Suriah Ahmed Al-Sharaa bersama Emir Qatar saat kunjungan ke Damaskus