Lingua Sacra

Al Qur'an diturunkan dalam bahasa Arab dan tetap akan selamanya berbahasa Arab. Jadi tidak akan pernah ada Al Qur'an berbahasa Inggris atau berbahasa Indonesia.

Kalaupun Al Qur'an diterjemahkan dalam berbagai bahasa, ia tetap harus menyertakan teks asli Arabnya. Hal ini dikarenakan, kalau dalam istilah Karen Amstrong bahasa Arab adalah Lingua Sacra, bahasa suci Agama. Bahasa yang dipilih sang Ilahi untuk menyampaikan amanat-Nya kepada manusia.

Istilah Lingua Sacra dari Karen Amstrong ini menarik, sebab rata-rata agama besar mempunyai Lingua Sacra ini.

Agama Hindu punya bahasa Sansekerta sebagai Lingua Sacra. Menurut Ronit Ricci, Sansekerta adalah bahasa kitab suci dan sastra keagamaan, jadi ia bukanlah bahasa tutur umat Hindu.

Bahasa tuturnya adalah bahasa Prakerta. Di Nusantara, jejak bahasa Sansekerta masih sangat terasa terutama di daerah-daerah yang dulu menjadi pusat kekuasaan Hindu di Jawa dan Bali. Sementara jejak bahasa prakerta tidak ditemukan.
Yahudi punya bahasa Ibrani sebagai Lingua Sacra, sebab ia adalah bahasa yang dipakai oleh sang Elohim ketika mendiktekan Taurat kepada Nabi Musa. Taurat adalah lima kitab pertama dalam Hebrew Bible.

Akan tetapi bagi Kristen, tulis Karen Amstrong, Lingua Sacra itu sesuatu yang asing. Pernyataan Karen ini menarik, sebab agama Kristen dibesarkan dalam dua tradisi bahasa berbeda, kultur Yahudi dan kultur Roma.

Semua sepakat bahwa Yesus menggunakan bahasa Aram/Suryani. Akan tetapi, kata Kristen itu disematkan kepada pengikut Kristus dari kalangan non Yahudi yang kebanyakan berbahasa Yunani.

Lalu, Alkitab, sebagai pengajaran kekristenan oleh para bapa gereja awal ditulis dalam bahasa apa?

Menurut ust. Menachem Ali dalam buku Ismael dalam Alkitab dan naskah Qumran, Gereja Orthodox Asyiria (kaum Nestorian) berpendapat bahawa surat-surat pengajaran itu tetap menggunakan bahasa Aram / Suryani, sehingga Greek New Testament, alkitab berbahasa Yunani itu bukan alkitab tetapi terjemahan alkitab.

Di kubu yang lain, gereja-gereja Kristen Barat berpendapat bahwa bahasa asli kitab suci adalah bahasa Yunani coine. Jadi teks Peshitta atau alkitab berbahasa Suryani itulah yang merupakan kitab terjemahan.

Dan para pakar Bible mengakui bahwa memang Alkitab Perjanjian Baru itu tidak punya teks primer yang disepakati bersama. Hal itulah yang mungkin menjadikan Kristen asing dengan Lingua Sacra atau bahasa suci agama.

Itulah sebabnya, kitab suci penganut Kristen yang ditulis dalam bahasa setempat, tidak mencantumkan teks dalam bahasa aslinya. 

(Kang Arif)

Baca juga :