2 dari 3 jenis hakim masuk neraka. Kalau pegawai Pajak?

✍🏻TERE LIYE

“Saya tentu berharap penulis seperti Tere Liye tidak menganggap bahwa seluruh jajaran pajak adalah identik dengan Gayus. Persepsi ini sungguh melukai mereka yang jujur dan memiliki komitmen dan integritas tinggi dalam menjalankan tugas konstitusi mengumpulkan penerimaan negara.”

Kalimat ini ditulis oleh Menteri pada September 2017.

Waktu itu saya ngamuk, bilang berhenti menerbitkan buku.

Kalau baca saat itu, tulisan beliau (Menteri) tulus, personal dan memang mencari solusi.

8 tahun berlalu, saya mau merespon tulisan ini, wabilkhusus paragraf tsb, terkait dengan OTT pegawai pajak terbaru.

Saya TIDAK pernah menganggap seluruh jajaran pajak identik dengan Gayus. Terlintas satu benang pun tidak. Kakak saya pensiunan pegawai pajak, teman-teman saya, tetangga, dll dsbgnya. Dan saya tahu mereka berusaha mati-matian lurus.

Tapi ayolah, jika kamu merasa pegawai pajak itu suci semua, lantas terluka saat orang lain berprasangka buruk, dll, kamu sih yang lebay merasa semua sudah bagus-bagus.

Dalam agama saya, hakim misalnya, 2 dari 3 jenis hakim masuk neraka.

Pegawai pajak? Aduh, yang ini sih tidak disebut khusus; tapi memajaki orang lain, bahkan hingga tarif 35%, kamu terlalu PD jika merasa baik-baik saja kelak.

Sesekali renungkanlah profesi kita itu. Saya sebagai penulis, sampai detik ini, takuuut sekali kelak jika ternyata nulis fiksi itu termasuk sesat. Pegangan saya sangat terbatas. Jangan-jangan saya salah pegang.

Pada akhirnya, buat siapapun pegawai pajak, saya hanya mau bilang: semoga kalian tahu harus buas ke siapa di negeri ini. Perusahaan tambang, kelapa sawit, pengusaha-pengusaha super raksasa di sana; kalian galak tidak? Jangan-jangan selama ini kalian ramah dan sopaaan sekali. Sementara ke bisnis-bisnis kecil, UMKM, profesi penulis, dll? Saat mereka diperiksa habis-habisan hanya gara-gara pajak secuil saja dibanding tax holiday perusahaan raksasa?

Lagian, tidak usah lebay mengejar pajak-pajak ini. Uangnya toh buat apa sih? Bancakan proyek MBG, dll dsbgnya. Cukup kerja sesuai jam kerja, sebisa, dan seamanah saja. Tiadk usah sok patriotis, sok mengejar target, segitunya. Mudahkan saja urusan orang lain. Mending fokus ngurus keluarga masing-masing. Jika sudah merasa siap, bergegas cari pekerjaan lain, wiraswasta dll, lebih tenang toh?

(Tere Liye)

Komentar