1 Kapal Minyak Ditembak di Selat Hormuz oleh Iran

Eskalasi konflik Timur Tengah mencapai level baru hari ini ketika Iran menyerang sebuah kapal tanker minyak di Selat Hormuz, jalur maritim strategis yang mengangkut sekitar 20–25% pasokan minyak dunia. Kapal tanker berbendera Palau bernama Skylight menjadi korban pertama serangan langsung terhadap kapal komersial sejak perang dimulai akhir pekan lalu.

Menurut Oman Maritime Security Centre, insiden terjadi sekitar 5 mil laut (sekitar 9 km) utara Pelabuhan Khasab di Semenanjung Musandam, Oman—tepat di pintu masuk Selat Hormuz. Kapal tersebut diserang, menyebabkan kebakaran hebat, empat awak terluka, dan seluruh 20 kru dievakuasi. Kru terdiri dari 15 warga India dan 5 warga Iran. Semua korban telah dibawa ke fasilitas medis di Oman untuk perawatan.

Iran melalui televisi negara dan agensi berita Mehr mengonfirmasi bahwa serangan dilakukan oleh Garda Revolusi Islam (IRGC) karena kapal Skylight “melanggar perintah” dan mencoba melintas secara ilegal di selat yang telah mereka tutup efektif sejak Sabtu (28 Februari). IRGC menyatakan bahwa Skylight, yang sebelumnya berada di bawah sanksi AS karena diduga terkait perdagangan minyak Iran, dianggap sebagai target sah. Gambar dan video yang beredar di media sosial menunjukkan kapal terbakar parah dengan asap hitam tebal membumbung, dan ada indikasi kapal berisiko tenggelam.

Insiden ini terjadi di tengah penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran sebagai respons balasan atas serangan gabungan AS-Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta target militer dan pemerintahan di Teheran. IRGC telah mengirim peringatan via radio VHF ke semua kapal: “Tidak aman melintas, lalu lintas dihentikan.” Akibatnya, lalu lintas kapal turun drastis hingga 70–90%, dengan ratusan tanker (minimal 150–250) terdampar di anchor di Teluk Persia dan sekitar Oman. Perusahaan pelayaran besar seperti Hapag-Lloyd, Maersk, dan CMA CGM menangguhkan transit, sementara premi asuransi melonjak tajam.

Harga minyak dunia bereaksi cepat, dengan Brent crude mendekati level krisis akibat ancaman gangguan pasokan energi global. AS dan sekutu memperingatkan kapal untuk menghindari area, sementara Iran menyatakan tidak ada kapal terkait AS yang boleh masuk Teluk Persia.

Situasi tetap sangat tegang dan dinamis. Para analis memperingatkan bahwa jika penutupan berlanjut, dunia bisa menghadapi krisis energi mirip 1970-an. Pantau terus perkembangan dari sumber kredibel seperti Reuters, Anadolu Agency, dan Oman Maritime Security Centre, karena konflik ini berpotensi meluas lebih jauh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *